Jumat, 17 Oktober 2014

Cikuray, Unforgettable Moment

   Sebenernya rencana buat mendaki gunung Cikuray udah ada sejak zaman Soekarno, jauh sebelum Android di akuisisi oleh Google mungkin. Ahh entahlah. Itu semua nggak bakal gue ceritakan. Yang bakal gue ceritakan adalah tentang proses pembuatan galon dari mulai kawin terus hamil terus melahirkan terus jadi TKW di Arab Saudi terus dihukum pancung terus mati terus udah. Titik. Oke oke gue akan menceritakan tentang perjalanan melelahkan sekaligus mengharukan dan memprihatinkan gue selama mendaki gunung Cikuray. Iya meskipun gue tinggal sangat dekat sama Cikuray tapi gue baru 2 kali mendakinya. Memalukan. Menyedihkan. Memang. *gue tertawa malu didalam ember*.
   Gunung Cikuray adalah salah satu gunung tujuan para pendaki di Jawa Barat. Pemandangannya begitu indah dan mempesona. Setidaknya menurut gue. Tapi sayang, sekarang Cikuray udah mulai gundul sampai hampir setengahnya karena pembukaan lahan pertanian oleh penduduk dari planet Merkurius. Disana mereka nggak bisa nanam cabe. Kesian amat mereka. Cikuray juga dikotori oleh sampah yang berserakan dimana-mana termasuk di puncak. Miris banget.
   Cikuray tingginya sekitar 2.821 mdpl. Cukup tinggi buat pemula seperti gue.Jalur pendakian yang curam menuju puncak bakal sangat menguras tenaga. Butuh kekuatan fisik dan mental yang mumpuni buat bisa mendaki sampai ke puncak.
   Dimulai dari diskusi singkat via Blackberry Messengger gue sama Danny Subagja aka Buta kita mulai merencanakan buat mendaki di hari Sabtu tanggal 11 Oktober 2014. Oke fix hari itu yang kita pilih. Gue nyoba ngehubungi Rino Karno aka Obat via SMS. Dari Obat terkumpullah anggota sebanyak 6 orang. Mereka adalah Jang Iwan aka Basir, Agus, Ayi, Dedi Rustandi (Oot), dan Peppy serta Obat sendiri. Berarti sudah ada 7 orang sama Buta. Gue dari Bandung sama Cecep. Jadi sekarang anggota jadi berjumlah 9 orang. Oiya satu lagi anggota bertambah. Beliau adalah Eep Permana aka Ojo. Maka anggota fix yang terkumpul buat misi <strike>menaklukkan kerajaan Majapahit</strike> mendaki Cikuray berjumlah 10 orang.
   Gue berangkat dari Bandung hari Jumat jam 21.30 abis nonton Persib. Iya tadinya gue mau berangkat ke Garut sore hari tapi takut nggak kebagian nonton pertandingan. Kalian tau kan gara-gara gue Persib jadi menang? hahahaha *sok jadi dukun*. Di perjalanan gue sempatkan belanja di Alfamart buat membeli kebutuhan logistik selama pendakian ke puncak. Gue beli 1 botol Aqua 1,5 liter dan beberapa makanan ringan. Abis belanja, gue langsung melanjutkan perjalanan dan tiba di rumah jam 23.15. Gue pun langsung tidur.
   Bangun tidur gue langsung mencret karena masuk angin semalam di perjalanan. Jam 7.30 gue ngambil tenda ke rumah teman gue. Eh maksud gue minjem hehehe. Setelah itu gue langsung packing barang-barang. Kemudian kita berkumpul dan menumpang mobil bak sampai Pamalayan. Setelah berdo'a menurut agama dan kepercayaan masing-masing kita langsung mendaki sekitar jam 11 siang.
   Kita langsung disambut trek dengan jalanan setapak yang menanjak diantara perkebunan penduduk. Panas terik udara bikin tubuh cepat kelelahan. Jalanan dipenuhi dengan tanah berdebu karena kemarau yang berkepanjangan. Inilah akibat keserakahan manusia yang menggunduli hutan untuk kepentingan mereka sendiri. Cikuray udah nggak asri lagi sekarang. Gue sedih. Tapi gue nggak bisa berbuat apa-apa buat menyelamatkan Cikuray dari ini semua.
   Perjalanan melewati debu dengan jalanan menanjak dan udara panas terik. Sesekali kita istirahat buat memulihkan tenaga. Selama perjalanan sebelum memasuki hutan kita nggak bisa menghirup udara segar karena udara dipenuhi debu yang menusuk pernafasan. Melelahkan.


   Setelah berjalan sekitar 2 jam, kita tiba di sebuah kolam buatan buat menampung air dari mata air yang bakal digunakan buat nyiram tanaman. Disini gue mulai ngerasain ada yang aneh sama perut gue. Dia kukurubukan alias keroncongan nggak karuan kayak lagi perang Mahabarata terjadi didalam perut gue. Gue pun boker buat meredakan perang yang udah terjadi selama beberapa dasawarsa ini. Creeet... ternyata gue mencret lagi. Ah sial. Gue berharap semoga perut gue bisa ngertiin posisi gue sekarang. Ini di hutan bukan di SPBU. Disini nggak ada WC Umum. Semoga gue selamat sampai tujuan. Amin.
   Satu per satu pasukan menceburkan diri ke kolam secara membabi buta seperti kerbau yang kehilangan induknya selama ratusan tahun. Segernya kayak abis minum Frestea yang udah disimpen di kulkas sejak gue masih SD. Ahh ini surga dunia. Bukan Sinar Dunia yah. Itu mah merk buku tulis ketika gue masih suka sekolah dulu hahaha.





   Inilah anggota paling subur diantara rombongan kita. Dia adalah Agus. Entah apa yang dia makan hingga hampir nggak berbentuk seperti manusia biasa. Mungkin dia suka makan rumput tetangga yang lebih hijau kali yah? Ahh sudahlah. Setelah puas istirahat dan bermain air di kolam, perjalanan dilanjutkan kembali. Jalanan masih berdebu dan menanjak hingga sampai di puncak bayangan. Kita sampai di puncak bayangan sekitar jam 2 siang. Disini kita istirahat dan makan tulang belulang Dinosaurus. Disini juga kita mengisi persediaan air bersih di mata air yang terletak sekitar 50 meter ke arah kiri dari puncak bayangan.
   Setelah perut terisi penuh dan tenaga kembali pulih kita langsung melanjutkan perjalanan. Dan inilah perjuangan sebenarnya buat menaklukkan puncak Cikuray. Mulai dari sini jalurnya sangat terjal. Kita harus melewati akar-akar pepohonan di sepanjang jalur pendakian. Ujian fisik dan mental mulai diuji. Perut gue pun lagi-lagi mengalami suasana yang sangat mencekam. Seperti suasana saat sidang sengketa pilpres kemarin. Tapi ini lebih serius dan mengkhawatirkan. Perut gue dalam bahaya besar. Ini udah harus dikategorikan dalam status darurat militer. Iya keadaan perut gue udah melebihi panasnya perang Vietnam. Bahkan lebih berbahaya dan mematikan. Gue bingung. Sekali lagi gue bingung. Ini ujian maha berat buat gue. Gue harus berusaha tetap kuat. Croott... Gue boker lagi di tengah-tengah perjalanan. Isinya adalah campuran air aki dan pepsi tambah sedikit aspirin. Air semua. Gue mengalami kelelahan hebat akibat hal ini. Badan gue lemes seperti ibu-ibu abis melahirkan bayi paus.
    Sekitar 950 meter lagi menuju puncak, rombongan mulai dipecah menjadi 2 rombongan. Gue berada di rombongan paling belakang bersama Obat, Buta, Agus dan Basir. Kenapa gue paling belakang?? Seperti yang udah gue ceritain diawal, iya gue terserang penyakit misterius dari luar angkasa. Penyakit itu gue kasih nama Diare. Dia keren karena hampir saja membuat gue kehilangan harapan buat mencapai puncak. Tapi gue nggak kalah keren karena gue mampu ngelawan dia hampir setengah mati selama perjalanan. Segala cara gue lakuin buat meredakan rasa sakit di perut gue. Mulai dari membaca mantra dari Sun Go Kong, makan jantung Brontosaurus, minum air kencingnya Ayu Tingting dan masih banyak hal ganjil lain yang gue lakuin. Sementara di barisan terdepan ada Peppy, Eep, Oot, Ayi dan Cecep. Mereka tiba lebih dulu di puncak. Sementara gue harus berjibaku dengan sakit perut disertai panas dingin yang makin membuat gue merasa lemah dan berantakan.
   Inilah perjalanan berat sesungguhnya buat gue. Perjalanan yang terasa begitu berat dan panjang. Gue harus berjalan merangkak menahan rasa sakit yang menjadi-jadi di perut gue. Perjalanan jadi makin sering terhenti karena kondisi gue yang udah seperti korban banjir lahar dingin merapi. Gue butuh asupan kasih sayang. Batin gue berkecamuk antara terus melanjutkan perjalanan sampai ke puncak malam itu juga atau gue menyerah dan menunda perjalanan sampai besok pagi ketika kondisi gue udah membaik. Tapi berkat dorongan semangat dari teman-teman, gue akhirnya melanjutkan perjalanan meskipun harus terus merangkak sedikit demi sedikit dan memakan waktu berjalan yang teramat panjang.
   Selepas maghrib kita baru mencapai titik 700 meter menuju puncak. Di tengah perjalanan gue masih saja sering boker untuk mengeluarkan gas beracun yang bisa memusnahkan seisi dunia. Dunia mainan maksud gue. Baunya bisa mencapai radius 10 km ke segala arah. Dahsyat. Abis gue boker, Obat dan Basir mencoba membuat api dari ranting-ranting kecil untuk sekedar menghangatkan tubuh dan membuat segelas kopi. Kita memasak air menggunakan botol aqua yang dibakar langsung. Ide dahsyat ini patut mendapat apresiasi dan penghargaan dari Menteri Koperasi dan UKM Negara Khayalan.
   Di sisa perjalanan kira-kira 400 meter lagi menuju puncak kita bertemu rombongan dari Jakarta yang udah mendirikan satu tenda dan satu tenda lagi sedang dalam proses pendirian. Usut punya usut ternyata mereka sengaja bermalam disana karena ada beberapa anggota wanita yang mengalami kram. Oh andai gue bisa menolong dia pasti gue akan jadi pahlawan. Pahlawan kemaghriban tepatnya. Mereka berencana melanjutkan perjalanan besok pagi sebelum matahari terbit dan sebelum Jokowi dilantik jadi Presiden.
   Setelah basa-basi singkat ala bajak laut, gue meminta sedikit teh pahit hangat buat mengobati sakit perut gue. Kali ini perut gue mulai membaik. Terimakasih Bro dari Jakarta, gue nggak akan pernah melupakan kebaikan kalian. Terimakasih banyak juga buat kalian teman-teman gue yang udah mau sabar menemani gue selama perjalanan. Suatu saat gue pasti akan membalas semua kebaikan kalian. Gue jadi terharu. Ini lebih dari sekedar film 5 cm. Ini perjuangan +700 meter hahaha *alayers*.
   Perjalanan kembali dilanjutkan dengan kondisi gue yang semakin membaik di perut, tapi nggak dengan kondisi demam gue yang makin menggila. Tubuh gue lemas. Sangat lemas. Panas dingin. Hampir nggak mampu lagi gue berjalan tegak. Kembali gue harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan merangkak sejauh ratusan meter. Tapi mental gue tumbuh seiring dengan berbagai tanda semakin dekatnya gue ke puncak. Dan akhirnya gue sampai di puncak sekitar jam 9 malam.
   Gue langsung berbaring di tenda karena udah nggak kuat lagi menahan demam yang merasuki tubuh gue. Tapi gue nggak bisa tidur semalaman. Cecep juga mengalami hal yang sama dengan gue. Bahkan berkali-kali dia memuntahkan jerapah dari mulutnya. Nggak ada yang bisa gue lakuin selama semalaman selain menikmati indahnya panas dingin rasa puncak. Gue tersiksa semalaman. Tapi gue sama sekali nggak menyesal. Dari situasi seperti ini rasa kekeluargaan dan persaudaraan semakin terasa. Klise memang. Tapi gue rasakan sendiri kondisi seperti ini. Sekali lagi gue ucapkan terimakasih buat kalian semua.
   Fajar pun tiba dengan begitu mempesona seperti gue hahaha. Indahnya pagi itu. Pagi yang riuh dengan suara para pendaki lain yang asyik bercengkrama dan menikmati matahari terbit. Puncak Cikuray pagi itu begitu penuh sesak oleh para pendaki. Suasananya seperti di pasar. Ramai sekali. Gue pun nggak mendapat spot untuk mengambil gambar matahari terbit. Nggak banyak yang bisa dilakuin pagi itu karena kondisinya terlalu ramai. Kita hanya beraktifitas di sekitar tenda saja.


   Sekitar jam 9 pagi kita mulai naik ke atas karena suasana udah mulai sepi. Para pendaki sebagian udah turun sehingga nggak seramai suasana di pagi hari. Apa yang tersisa di atas? Sampah. Sampah yang berserakan dimana-mana. Menyedihkan memang. Puncak Cikuray sekarang jadi tempat sampah raksasa. Andai kondisi gue fit, pengen rasanya gue bawa semua sampah itu turun buat gue buang dibawah. Tapi gue nggak bisa berbuat banyak. Buat jalan turun aja gue harus berjuang melawan rasa letih dan kantuk yang menyerang tubuh gue. Sisa tenaga gue simpan buat perjalanan turun yang juga akan sangat melelahkan. Semoga suatu hari gunung Cikuray bisa terbebas dari sampah. Semoga.


   Karena udara di puncak yang makin panas dan persediaan makanan dan minuman mulai menipis, jam 10 pagi kita memutuskan untuk turun dari puncak. Sebelum turun kita berfose-fose cantik buat mengabadikan keindahan puncak Cikuray.



   Setelah puas berfose kita langsung turun. Dua jam perjalanan kita baru sampai di puncak bayangan buat istirahat dan mengambil air minum dari mata air di Ekuador. Setelah itu kita langsung melanjutkan perjalanan turun. Perjalanan yang sama melelahkannya kayak perjalanan mendaki kemarin. Gue berada di rombongan terakhir sama Obat dan Buta dan sampai di Pamalayan jam 2 siang. Sementara yang lain udah sampai duluan.


  
   Dengan sisa tenaga kita melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Gue, Obat, Oot dan Ayi menumpang mobil antik tua milik temannya teman gue. Ah indahnya. Siapapun kalian, gue ucapkan terimakasih atas tumpangannya sehingga gue bisa selamat dan sehat wal afiat sampai di rumah. Alhamdulillah. Semoga suatu hari nanti gue bisa mencumbui lagi puncak Cikuray yang udah bersih dari sampah.
Cikuray, momen yang nggak akan pernah gue lupain. Selamanya.














  

Sabtu, 27 September 2014

Explore Pangandaran


   Hari itu Jumat 13 Juni 2014 gue masih di Bandung. Lalu temen gue Qionk mengajak gue ke Pangandaran malam itu juga. Dengan berbagai pertimbangan akal sehat dan perenungan mendalam selama satu setengah tahun gue meng-iyakan ajakan dia. Ya gue setuju kita pergi ke Pangandaran malam itu. Tepat jam 9 malam kita berangkat ke Garut. Gue, Qionk, Ian dan Seponk berangkat ke Garut untuk menjemput adik Ian dan juga temen gue Obat. Sampai Garut sekitar jam 11 malam setelah berjibaku dengan banjir di Rancaekek. Jam setengah 12 malam kita langsung berangkat ke Pangandaran dengan 3 motor berisi 7 orang. Kita lewat jalur Singaparna yang sudah sangat sepi seperti jalanan New York malam itu.
   Kurang lebih 6 jam perjalanan yang mencekam, subuh kami baru nyampe di Pangandaran. Kami menghabiskan pagi sampai siang cuma tidur di rumah sodara Ian karena kelelahan tingkat dewa yang kami alami. Setelah makan kita langsung pergi ke Cagar Alam. Apa yang gue jumpai disana? Gue cuma bisa nemuin kijang sama kera doang. Nggak ada yang lain. Ahh betapa kecewanya gue. Tadinya gue berharap disana bisa ketemu sama Aura Kasih atau Dian Sastro paling nggak gue bisa ketemu Olivia Jensen lah. Eh Gue lupa, disana bukan tempat penangkaran cewek cantik ternyata *efek kurang tidur dan kurang kasih sayang*. Tapi nggak apa-apa, yang penting gue bisa menikmati pemandangan indah pantai Pangandaran. Gue seneng banget!


   Sorenya kita pulang ke tahanan, ehh ke rumah maksud gue.  Setelah sedikit mengisi perut dengan batu lalu kita nongkrong di pinggir pantai. Selesai ngobrol, ngopi dan makan-makan di pinggir pantai kita pergi ke pertunjukan musik yang diadakan Kawasaki kalo gue ga salah lihat. Ya disana ada konser musik reggeae. Temen-temen gue pada joget semua, gue nggak. Sampai malam akhirnya kita pulang ke rumah lagi buat bakar ikan yang tadi sore kita beli. Setelah selesai membakar semua ikan lalu gue kasih semuanya ke kucing... tulangnya. Yahhh perut kenyang hati riang mata pun mulai kunang-kunang pertanda bahwa malam itu gue ngantuk berat. Ya udah gue tidur aja berhubung besok gue harus melanjutkan perjalanan mencari kitab suci lagi menyusuri Pangandaran. Gue berharap bisa bermimpi ketemu Dewi Kwan Im. Minimal anaknya lah *ngarep tetep*.
   Besoknya, Minggu 15 Juni 2014 gue bersiap melanjutkan petualangan. Kali ini tujuan gue adalah pantai Batu Karas. Batu karas itu adalah batu karang yang telah membeku. Seperti es krim Campina di Indomaret. Asal katanya karang ditambah es, jadilah Batu Karas *kali ini gue ngasal*. Jalanan yang harus gue lalui untuk sampai disana adalah jalanan penuh liku dan berdebu seperti di lagu Malaysia zaman batu. Iya sebagian jalannya sedang diperbaiki. Dan gue yakin itu pasti bukan debu dari tepung terigu. Gue yakin banget. Itu debu dari aspal jalan yang mulai terkelupas dan terhempas tak berbalas tuntas. Halah gue ngomong apaan sih? sudahlah.
   Sesekali gue pun harus meminjam oksigen dari rumah sakit untuk membantu gue bernafas. Sesak sekali. Sulit bernafas. Sulit juga melihat pemandangan kalau sewaktu-waktu di tengah jalan ada bidadari cantik yang mau nyebrang jalan. Ahh sayang sekali rasanya melewatkan pemandangan seperti ini. Dan di tengah jalan juga gue harus melewati jembatan seperti ini :


   Tenang anak muda. Kalian semua harus tenang karena ini bukan jembatan Shirotol Mustaqim. Ini masih di dunia. Kebayang kan seperti apa keadaan jantung gue waktu melewati jembatan ini pake motor? Nggak kebayang? Sungguh? Oke oke gue akan ceritakan seperti apa kejadiannya. Mari cek ke TKP.
Bismillahirrohmanirrohim...
Pertama kaki gue gemetaran kayak lagi gempa bumi di Puerto Rico, lambung gue tercabik-cabik seperti Lionel Messi mencabik-cabik pertahanan Real Madrid dengan goyang itiknya, eh itu milik Zaskia Gothic ya? Maaf. Jantung gue pun berdetak kencang banget sampai gue lupa bernafas, tangan gue membeku nggak bisa bergerak *lebay*, dan mulut gue komat-kamit baca Iqro. Hingga akhirnya sampai di tepi jembatan dan gue nggak diminta bayar karcis. Hebat kan gue? Nggak? Oke makasih.
Oke kali ini gue lapar. Gue makan dulu ah. Cape dari tadi nulis.
   Setelah perjalanan panjang akhirnya kami berenam tiba di pantai Batu Karas. Seponk, Dede, Ian, Qionk dan Obat bermain ombak di pantai, sementara gue bermain api di pinggir pantai. Kenapa gue nggak main ke pantai? Gue paling nggak bisa berenang, gue juga lumayan takut sama ombak. Gue juga takut kalau nanti kesaktian gue luntur gara-gara kena air laut. Gue pun takut kalau tukang bangunan nyariin gue karena gue main pasir di pantai. Pokoknya gue ketakutan. Yang gue lakukan cuma foto-foto doang. Sambil sesekali lihat pemandangan di sekeliling gue siapa tahu gue menemukan jodoh gue di sana terus dia ngajak nikah terus bulan madu di Pakistan terus punya anak terus gue mati. Oke itu ketinggian gue kira *lagi-lagi gue ngarep*.


Setelah puas bermain di Batu Karas kami melanjutkan perjalanan ke Batu Hiu. Kami menyusuri jalanan pinggir pantai dengan pemandangan yang sangat indah dengan hembusan angin laut yang cukup kencang. Cukup menyejukkan raga yang kelelahan. Yang kami jumpai sepanjang perjalanaan adalah hamparan laut yang maha luas. Sungguh menakjubkan. Setelah tiba di Batu Hiu kami cuma bisa berfoto dan menikmati pemandangan pantainya saja.

Sebentar saja di Batu Hiu kami segera bergegas melanjutkan perjalanan ke Citumang karena waktu sudah mulai sore. Dan disini kami mendapat diskon tiket masuk karena penjaganya adalah tetangga kami. Ini sih nepotisme namanya hahaha. Tapi nggak apa-apa yang penting bisa ngirit dan nggak mengorbankan kepentingan rakyat banyak. Secara uang di dompet sudah mulai menipis.
   Disini gue beranikan diri untuk berenang. Pake pelampung pastinya. Nggak pake gas elpiji 3 kg. Asyik berenang dan nggak ada foto yang bisa kami abadikan disini. Sayang sekali padahal pemandangannya sangat indah menurut gue. Ahh sayang banget pokoknya. Dan gue berjanji kepada Ibu Pertiwi seandainya gue diizinkan lagi untuk menginjakkan kaki di Citumang gue bakal ngambil foto sebanyak-banyaknya.
Hari pun mulai sore, matahari sudah mulai tenggelam dan kami bergegas meninggalkan Citumang untuk pulang ke rumah. Tapi kami sempatkan lagi ke pantai untuk foto-foto sebelum kami beristirahat.

Dan beginilah kalau Band Malaysia menemukan laut. Rasanya gatal pengen di foto. Narsis? Memang. Biarkanlah mereka menikmati.
   Puas berfoto kami segera pulang karena ombak semakin besar. Gue takut mereka dijemput Nyi Roro Kidul. Bagaimana nanti gue menjelaskan semua kejadian yang menimpa mereka di depan Sidang Paripurna DPR? Gue sama sekali bingung.
   Setibanya di rumah kami langsung beristirahat di teras. Oh lelahnya. Qionk dan Seponk memutuskan untuk langsung pulang ke Bandung malam itu juga sementara gue sama Obat akan pulang besoknya karena gue masih penasaran sama rencana awal gue ke Pangandaran. Iya gue pengen ke Green Canyon. Setelah berdiskusi menetukan tujuan perjalanan selanjutnya antara Green Canyon, Madasari atau Nusakambangan. Secara aklamasi destinasi perjalanan selanjutnya diputuskan bahwa kami akan ke Green Canyon. Palu diketok oleh ketua MPR. Tandanya keputusan sudah bulat dan nggak bisa di ganggu gugat lagi. Titik.
   Setelah mengumpulkan pasukan sebanyak 4 orang yaitu gue, Obat, Ian dan Ramdan kami langsung berangkat menuju Green Canyon. Dan kembali jalanan yang harus dilalui adalah jalanan berdebu. Ini menyebalkan menurut gue. Tapi itu nggak seberapa dibanding dengan keindahan yang akan gue jumpai disana nanti. Dan tibalah kami di pintu masuk Green Canyon. Disini adu tawar tarif perahu dan berenang berlangsung dengan sengit. Seperti pertandingan El Clasico. Panas dan alot. Dan tetap saja tarif yang harus kami bayar sangat mahal. Kami harus merogoh kocek sebanyak 250.000 untuk sewa perahu dan berenang. Lagi-lagi Yahudi sangat berkuasa. Ah Indonesiaku. Berikan kemerdekaan untuk negeri ini Ya Allah.
   Oh Indahnya pemandangan sepanjang sungai yang kami lalui untuk menuju ke mata air, tempat yang nantinya akan kami gunakan untuk <strike>semedi</strike> berenang dan berfoto-foto.Gue rasa negeri ini sungguh masih sangat indah. Betapa beruntungnya gue dilahirkan di negeri ini. Rasa syukur nggak hentinya gue ucapkan dalam hati. Betapa senangnya gue hari itu meskipun dalam hati bergejolak karena uang di dompet hanya cukup untuk perjalanan pulang. Ah sudahlah. Nikmati sajalah. Kapan lagi gue bisa ke Green Canyon?
   Kali ini gue juga terpaksa harus berenang untuk menuju ke hulu sungai dimana nantinya disana akan ada pemandangan sungai bawah tanah yang lebih menakjubkan lagi. Iya gue harus berenang lagi. Berenang adalah salah satu pelajaran olahraga yang paling gue benci. Fak! Fak! Tapi gue lakukan semua itu demi menggapai salah satu tempat terindah di muka bumi. Ya gue berhasil meskipun dengan bantuan guide Yahudi tadi. Tapi gue bangga. Pemandangan di bawah tanah benar-benar membuat gue sadar akan keagungan Tuhan. Betapa kecilnya diri ini. Gue malu.



   Lelah berenang kami segera kembali ke loket karena perahu telah menunggu. Di loket, kami sempatkan untuk makan dulu sebelum pulang ke rumah. Dan di perjalanan pulang kami mampir ke Bandara Pangandaran tapi kami nggak bisa masuk kesana. Kami langsung pulang karena badan sudah sangat letih. Rasanya tulang-tulang sudah mau lepas dari raga ini saking letihnya. Tibalah di rumah lalu kami meminum air kelapa muda yang langsung kami petik dari langit. Segarnya. Setelah tiduran di halaman rumah, gue sama Obat segera beres-beres karena kami akan langsung pulang ke Garut. Kami tiba di Garut sekitar jam 9 malam. Setelah tiba di rumah gue nggak tau lagi apa yang terjadi. Gue langsung tidur pulas. Nyenyak banget.
   Begitulah perjalanan panjang gue mengelilingi Pangandaran. Dan gue belum puas karena semua tempat indahnya belum gue kunjungi. Suatu hari nanti gue bakal melanjutkan misi ini.

Selasa, 23 September 2014

(Masih Mimpi) Mahameru

 

    Mahameru berikan damainya 
   Di dalam beku arcapada
   Mahameru sebuah legenda tercipta
   Puncak abadi para dewa...

   Lirik lagu Dewa 19 tadi semakin membangkitkan hasrat gue untuk menginjakkan kaki di puncak tertinggi Gunung Semeru. Puncak Mahameru. Sampai detik ini gue masih menyimpan mimpi ini. Gue memang bukan pendaki gunung, naik gunung juga baru sekali seumur hidup. Tapi gue pengen banget jadi pendaki gunung. Gue sangat mengagumi keindahan alam Indonesia. Gunungna, pantainya, hutannya, budayanya dan semuanya. Ya gue cinta Indonesia. Gue sangat cinta alam Indonesia <strike>Tapi tidak dengan sistemnya</strike>. hahaha

   Gue pengen ikut berpartisipasi melestarikan keindahan alam Indonesia. Gue nggak mau keindahan alam Indonesia dirusak oleh pihak yang sama sekali nggak bertanggung jawab. Udah cukup gue merasakan udara yang begitu panas menyengat akibat hutan kita yang terus menerus digunduli. Banjir akibat sungai yang udah jadi tempat sampah terpanjang dan berbagai problem yang lain akibat kita nggak lagi peduli dengan alam. Kita udah nggak bersahabat lagi dengan alam. Sepertinya alam marah sama kita penduduk bumi yang amat sangat serakah.

   Sampai detik ini pula hasrat gue untuk jadi pendaki gunung belum pernah terwujud. Tapi gue yakin gue pasti bisa. Melestarikan alam Indonesia nggak harus jadi pendaki gunung. Gue cuma pengen menikmati indahnya negeri ini. Gue pengen menikmati semua keindahan alam Indonesia. Gue pengen keliling Indonesia. Keliling dunia. Oh indahnya dunia. Maka bersyukurlah atas nikmat hidup yang telah diberikan Allah kepada kita semua.

   Gue sering baca tentang kisah perjalanan para pendaki yang pernah mendaki Semeru. Gue juga pernah mendengar cerita dari temen gue yang pernah ke sana. Betapa beruntungnya mereka. Betapa indah kisah mereka. Bisa menikmati fajar di Ranu Kumbolo, menikmati hangatnya mentari pagi menyambut hari sambil menikmati secangkir coklat hangat dan bercengkrama penuh keakraban dengan pendaki lain. Melintasi sabana oro-oro ombo yang luas. Dan menikmati sunrise di puncak tertinggi gunung Semeru. Puncak Mahameru.



   Hasrat gue semakin menggebu. Gue semakin cinta alam Indonesia. Gue semakin ingin menjaga alam ini agar anak cucu gue juga bisa menikmatinya nanti.

   Jangan biarkan alam marah lagi. Agar kita tetap bisa menikmati keindahannya. Agar kita bisa mengerti makna hidup sebenarnya. Tolong jaga alam ini. Tolong jaga  Mahameru. Semoga mimpi gue jadi kenyataan. Amin.


Sabtu, 20 September 2014

Sehari Penuh ke Ciwidey

   Hari itu tepat hari Jum'at 2 Mei 2014 gue pulang dari Bandung ke Garut. Gue udah merencanakan travelling ke pesisir selatan Garut. Jum'at malam kita mengadakan rapat kabinet guna membahas <strike>siapa Bapak dari anak ayam yang dilahirkan tadi sore</strike> kemana tujuan kita nanti. Mulai dari Pameungpeuk, Cijeruk, Cidaun, Cibalong dan gue lupa lagi yang lainnya. Apa saja isi dari rapat penting ini? Ga ada. Kita cuma ngobrol ngalor ngidul ga penting. Hingga tibalah jam 12 malam dan tidak ada hasil yang kita dapat sampai kita pulang ke rumah.

   Sabtu 3 Mei 2014 tidak ada tanda-tanda acara travelling akan jadi kita laksanakan. Semua sibuk dengan urusan masing-masing hingga tiba sore hari ketika gue bertemu dengan Baron. Lalu tercetus ide untuk pergi ke Ciwidey. Lalu kita kumpulkan personel untuk mengarungi perjalanan panjang ke Ciwidey. Setelah itu terkumpullah 5 orang anggota yang dinyatakan sehat lahir batin dan halal menurut MUI. Siapa saja anggotanya? Gue, Baron, Ade, Obhat, and Jepe.Dan besoknya menyusul Acen, jadi 6 orang sudah fix.  Malamnya kita rapat kabinet lagi untuk mensukseskan <strike>Pemilihan Camat California</strike> perjalanan kita besok.

   Kalian tau dimana kita rapat? Yang pasti bukan di Istana Negara atau juga di Saritem. Iya, kita rapat di warung Baso di Pasar Simpang, Bayongbong Garut. Coba deh kalian kesini. Basonya enak, bentuknya bulat, makannya pake mangkok dan yang punyanya manusia, sama kayak gue. Asyik kan?

   Besok pagi kita langsung berangkat.Kita mengambil rute Kamojang-Majalaya-Banjaran-Soreang-Ciwidey.

Foto saat kita menanti jodoh di Alfamart Paseh. Gue (belakang) featuring Baron.

   Setelah tersesat beberapa kali akhirnya kita sampai di Ciwidey disambut dengan udara yang sangat sejuk dan pemandangan luar biasa indah. Indonesia memang masih sangat indah untuk kita cumbui. Terima kasih Ya Allah. Semoga kami bisa menjaga karunia terindahMu.

   Tempat pertama yang kita tuju adalah Situ Patenggang. Hari sudah siang tapi udara masih sangat sejuk. Suasana minggu siang di sana sangat ramai. Gue sempatkan dulu Shalat Dzuhur di Mushola parkiran. Setelah itu kita keliling situ.

   Setelah satu abad kita keliling situ, dari balik bukit muncullah <strike>bidadari</strike> seorang sopir angkutan rakit. Beliau menawarkan kepada kita untuk menyebrang ke Batu Cinta. Berapa tarif yang beliau minta? 200ribu!! Anjir!! Yahudi! Musnahkan! Setelah sekian lama tawar-menawar dengan sengit, jadilah 100rb pulang-pergi.






   Ada apa di Batu Cinta? Katanya kita akan mudah dapat jodoh? Katanya jodoh kita adalah seorang wanita? Ahh...entahlah. Buktinya sampai sekarang gue masih belum ketemu jodoh. Mereka juga.

   Apa saja yang kita lakukan disana? Ga ada! Kita cuma foto-foto doang dan berdo'a dalam hati masing-masing semoga harga BBM turun, eh engga deng, semoga kita dimudahkan mendapat jodoh yang terbaik. Amin.
Daaaan inilah yang terjadi selanjutnya pemirsa yang budiman...


   Yap, bener! Cinta persegi panjang. Ah kalian pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, jadi gue ngga perlu bahas ya.

   Hari semakin sore dan cuaca sudah mulai mendung, tapi ada satu tempat lagi yang wajib kita kunjungi. Kawah Putih.
Sebelum meninggalkan Situ Patenggang kita sempat berfoto dengan turis asal India. Bukan, mereka bukan Shahrukh Khan-Kajol. Gue nggak tau siapa nama mereka. Sumpah! Demi Tuhan.





   Setelah perbincangan hebat antara Baron vs Mereka, kita langsung terbang menuju Kawah Putih. Untuk bisa sampai ke Kawah Putih kita nggak boleh bawa motor ke atas. Motor harus disimpan dibawah. Jadi kita harus bayar ongkos naik mobil ke atas plus bayar parkir plus titip helm plus masker yang tarifnya lagi-lagi Yahudi bunting!

   Kita langsung meluncur ke atas. Sampai di atas kita disambut dengan hujan yang cukup deras. Kita masih terus melanjutkan perjalanan. Sampai disanapun kita cuma bisa foto-foto sama melihat syuting film India. Lagi-lagi kita cuma bisa menghisap jempol kaki. Sambil mengacungkan jari tengah kaki dalam sepatu yang sudah basah kuyup. Eh gue kan pake sendal. Sorry gue lupa saking emosinya.


   Dan setelah cukup puas berfoto-foto kita pulang. Karena kelelahan yang cukup hebat kita mampir dulu ke Pasar Caringin. Disana kita diberi <strike>rumput</strike> tahu sama nasi goreng. Waduh nikmatnya. Terimakasih kepada Oot, Mang Ujang, dan Kasrun yang telah menjamu kita semua. Maaf kita sudah sangat merepotkan kalian. Semoga amal ibadah kalian diterima di sisi Allah SWT. Amin