Sabtu, 20 September 2014

Sehari Penuh ke Ciwidey

   Hari itu tepat hari Jum'at 2 Mei 2014 gue pulang dari Bandung ke Garut. Gue udah merencanakan travelling ke pesisir selatan Garut. Jum'at malam kita mengadakan rapat kabinet guna membahas <strike>siapa Bapak dari anak ayam yang dilahirkan tadi sore</strike> kemana tujuan kita nanti. Mulai dari Pameungpeuk, Cijeruk, Cidaun, Cibalong dan gue lupa lagi yang lainnya. Apa saja isi dari rapat penting ini? Ga ada. Kita cuma ngobrol ngalor ngidul ga penting. Hingga tibalah jam 12 malam dan tidak ada hasil yang kita dapat sampai kita pulang ke rumah.

   Sabtu 3 Mei 2014 tidak ada tanda-tanda acara travelling akan jadi kita laksanakan. Semua sibuk dengan urusan masing-masing hingga tiba sore hari ketika gue bertemu dengan Baron. Lalu tercetus ide untuk pergi ke Ciwidey. Lalu kita kumpulkan personel untuk mengarungi perjalanan panjang ke Ciwidey. Setelah itu terkumpullah 5 orang anggota yang dinyatakan sehat lahir batin dan halal menurut MUI. Siapa saja anggotanya? Gue, Baron, Ade, Obhat, and Jepe.Dan besoknya menyusul Acen, jadi 6 orang sudah fix.  Malamnya kita rapat kabinet lagi untuk mensukseskan <strike>Pemilihan Camat California</strike> perjalanan kita besok.

   Kalian tau dimana kita rapat? Yang pasti bukan di Istana Negara atau juga di Saritem. Iya, kita rapat di warung Baso di Pasar Simpang, Bayongbong Garut. Coba deh kalian kesini. Basonya enak, bentuknya bulat, makannya pake mangkok dan yang punyanya manusia, sama kayak gue. Asyik kan?

   Besok pagi kita langsung berangkat.Kita mengambil rute Kamojang-Majalaya-Banjaran-Soreang-Ciwidey.

Foto saat kita menanti jodoh di Alfamart Paseh. Gue (belakang) featuring Baron.

   Setelah tersesat beberapa kali akhirnya kita sampai di Ciwidey disambut dengan udara yang sangat sejuk dan pemandangan luar biasa indah. Indonesia memang masih sangat indah untuk kita cumbui. Terima kasih Ya Allah. Semoga kami bisa menjaga karunia terindahMu.

   Tempat pertama yang kita tuju adalah Situ Patenggang. Hari sudah siang tapi udara masih sangat sejuk. Suasana minggu siang di sana sangat ramai. Gue sempatkan dulu Shalat Dzuhur di Mushola parkiran. Setelah itu kita keliling situ.

   Setelah satu abad kita keliling situ, dari balik bukit muncullah <strike>bidadari</strike> seorang sopir angkutan rakit. Beliau menawarkan kepada kita untuk menyebrang ke Batu Cinta. Berapa tarif yang beliau minta? 200ribu!! Anjir!! Yahudi! Musnahkan! Setelah sekian lama tawar-menawar dengan sengit, jadilah 100rb pulang-pergi.






   Ada apa di Batu Cinta? Katanya kita akan mudah dapat jodoh? Katanya jodoh kita adalah seorang wanita? Ahh...entahlah. Buktinya sampai sekarang gue masih belum ketemu jodoh. Mereka juga.

   Apa saja yang kita lakukan disana? Ga ada! Kita cuma foto-foto doang dan berdo'a dalam hati masing-masing semoga harga BBM turun, eh engga deng, semoga kita dimudahkan mendapat jodoh yang terbaik. Amin.
Daaaan inilah yang terjadi selanjutnya pemirsa yang budiman...


   Yap, bener! Cinta persegi panjang. Ah kalian pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, jadi gue ngga perlu bahas ya.

   Hari semakin sore dan cuaca sudah mulai mendung, tapi ada satu tempat lagi yang wajib kita kunjungi. Kawah Putih.
Sebelum meninggalkan Situ Patenggang kita sempat berfoto dengan turis asal India. Bukan, mereka bukan Shahrukh Khan-Kajol. Gue nggak tau siapa nama mereka. Sumpah! Demi Tuhan.





   Setelah perbincangan hebat antara Baron vs Mereka, kita langsung terbang menuju Kawah Putih. Untuk bisa sampai ke Kawah Putih kita nggak boleh bawa motor ke atas. Motor harus disimpan dibawah. Jadi kita harus bayar ongkos naik mobil ke atas plus bayar parkir plus titip helm plus masker yang tarifnya lagi-lagi Yahudi bunting!

   Kita langsung meluncur ke atas. Sampai di atas kita disambut dengan hujan yang cukup deras. Kita masih terus melanjutkan perjalanan. Sampai disanapun kita cuma bisa foto-foto sama melihat syuting film India. Lagi-lagi kita cuma bisa menghisap jempol kaki. Sambil mengacungkan jari tengah kaki dalam sepatu yang sudah basah kuyup. Eh gue kan pake sendal. Sorry gue lupa saking emosinya.


   Dan setelah cukup puas berfoto-foto kita pulang. Karena kelelahan yang cukup hebat kita mampir dulu ke Pasar Caringin. Disana kita diberi <strike>rumput</strike> tahu sama nasi goreng. Waduh nikmatnya. Terimakasih kepada Oot, Mang Ujang, dan Kasrun yang telah menjamu kita semua. Maaf kita sudah sangat merepotkan kalian. Semoga amal ibadah kalian diterima di sisi Allah SWT. Amin




Tidak ada komentar:

Posting Komentar