Sabtu, 27 September 2014
Explore Pangandaran
Hari itu Jumat 13 Juni 2014 gue masih di Bandung. Lalu temen gue Qionk mengajak gue ke Pangandaran malam itu juga. Dengan berbagai pertimbangan akal sehat dan perenungan mendalam selama satu setengah tahun gue meng-iyakan ajakan dia. Ya gue setuju kita pergi ke Pangandaran malam itu. Tepat jam 9 malam kita berangkat ke Garut. Gue, Qionk, Ian dan Seponk berangkat ke Garut untuk menjemput adik Ian dan juga temen gue Obat. Sampai Garut sekitar jam 11 malam setelah berjibaku dengan banjir di Rancaekek. Jam setengah 12 malam kita langsung berangkat ke Pangandaran dengan 3 motor berisi 7 orang. Kita lewat jalur Singaparna yang sudah sangat sepi seperti jalanan New York malam itu.
Kurang lebih 6 jam perjalanan yang mencekam, subuh kami baru nyampe di Pangandaran. Kami menghabiskan pagi sampai siang cuma tidur di rumah sodara Ian karena kelelahan tingkat dewa yang kami alami. Setelah makan kita langsung pergi ke Cagar Alam. Apa yang gue jumpai disana? Gue cuma bisa nemuin kijang sama kera doang. Nggak ada yang lain. Ahh betapa kecewanya gue. Tadinya gue berharap disana bisa ketemu sama Aura Kasih atau Dian Sastro paling nggak gue bisa ketemu Olivia Jensen lah. Eh Gue lupa, disana bukan tempat penangkaran cewek cantik ternyata *efek kurang tidur dan kurang kasih sayang*. Tapi nggak apa-apa, yang penting gue bisa menikmati pemandangan indah pantai Pangandaran. Gue seneng banget!
Sorenya kita pulang ke tahanan, ehh ke rumah maksud gue. Setelah sedikit mengisi perut dengan batu lalu kita nongkrong di pinggir pantai. Selesai ngobrol, ngopi dan makan-makan di pinggir pantai kita pergi ke pertunjukan musik yang diadakan Kawasaki kalo gue ga salah lihat. Ya disana ada konser musik reggeae. Temen-temen gue pada joget semua, gue nggak. Sampai malam akhirnya kita pulang ke rumah lagi buat bakar ikan yang tadi sore kita beli. Setelah selesai membakar semua ikan lalu gue kasih semuanya ke kucing... tulangnya. Yahhh perut kenyang hati riang mata pun mulai kunang-kunang pertanda bahwa malam itu gue ngantuk berat. Ya udah gue tidur aja berhubung besok gue harus melanjutkan perjalanan mencari kitab suci lagi menyusuri Pangandaran. Gue berharap bisa bermimpi ketemu Dewi Kwan Im. Minimal anaknya lah *ngarep tetep*.
Besoknya, Minggu 15 Juni 2014 gue bersiap melanjutkan petualangan. Kali ini tujuan gue adalah pantai Batu Karas. Batu karas itu adalah batu karang yang telah membeku. Seperti es krim Campina di Indomaret. Asal katanya karang ditambah es, jadilah Batu Karas *kali ini gue ngasal*. Jalanan yang harus gue lalui untuk sampai disana adalah jalanan penuh liku dan berdebu seperti di lagu Malaysia zaman batu. Iya sebagian jalannya sedang diperbaiki. Dan gue yakin itu pasti bukan debu dari tepung terigu. Gue yakin banget. Itu debu dari aspal jalan yang mulai terkelupas dan terhempas tak berbalas tuntas. Halah gue ngomong apaan sih? sudahlah.
Sesekali gue pun harus meminjam oksigen dari rumah sakit untuk membantu gue bernafas. Sesak sekali. Sulit bernafas. Sulit juga melihat pemandangan kalau sewaktu-waktu di tengah jalan ada bidadari cantik yang mau nyebrang jalan. Ahh sayang sekali rasanya melewatkan pemandangan seperti ini. Dan di tengah jalan juga gue harus melewati jembatan seperti ini :
Tenang anak muda. Kalian semua harus tenang karena ini bukan jembatan Shirotol Mustaqim. Ini masih di dunia. Kebayang kan seperti apa keadaan jantung gue waktu melewati jembatan ini pake motor? Nggak kebayang? Sungguh? Oke oke gue akan ceritakan seperti apa kejadiannya. Mari cek ke TKP.
Bismillahirrohmanirrohim...
Pertama kaki gue gemetaran kayak lagi gempa bumi di Puerto Rico, lambung gue tercabik-cabik seperti Lionel Messi mencabik-cabik pertahanan Real Madrid dengan goyang itiknya, eh itu milik Zaskia Gothic ya? Maaf. Jantung gue pun berdetak kencang banget sampai gue lupa bernafas, tangan gue membeku nggak bisa bergerak *lebay*, dan mulut gue komat-kamit baca Iqro. Hingga akhirnya sampai di tepi jembatan dan gue nggak diminta bayar karcis. Hebat kan gue? Nggak? Oke makasih.
Oke kali ini gue lapar. Gue makan dulu ah. Cape dari tadi nulis.
Setelah perjalanan panjang akhirnya kami berenam tiba di pantai Batu Karas. Seponk, Dede, Ian, Qionk dan Obat bermain ombak di pantai, sementara gue bermain api di pinggir pantai. Kenapa gue nggak main ke pantai? Gue paling nggak bisa berenang, gue juga lumayan takut sama ombak. Gue juga takut kalau nanti kesaktian gue luntur gara-gara kena air laut. Gue pun takut kalau tukang bangunan nyariin gue karena gue main pasir di pantai. Pokoknya gue ketakutan. Yang gue lakukan cuma foto-foto doang. Sambil sesekali lihat pemandangan di sekeliling gue siapa tahu gue menemukan jodoh gue di sana terus dia ngajak nikah terus bulan madu di Pakistan terus punya anak terus gue mati. Oke itu ketinggian gue kira *lagi-lagi gue ngarep*.
Setelah puas bermain di Batu Karas kami melanjutkan perjalanan ke Batu Hiu. Kami menyusuri jalanan pinggir pantai dengan pemandangan yang sangat indah dengan hembusan angin laut yang cukup kencang. Cukup menyejukkan raga yang kelelahan. Yang kami jumpai sepanjang perjalanaan adalah hamparan laut yang maha luas. Sungguh menakjubkan. Setelah tiba di Batu Hiu kami cuma bisa berfoto dan menikmati pemandangan pantainya saja.
Sebentar saja di Batu Hiu kami segera bergegas melanjutkan perjalanan ke Citumang karena waktu sudah mulai sore. Dan disini kami mendapat diskon tiket masuk karena penjaganya adalah tetangga kami. Ini sih nepotisme namanya hahaha. Tapi nggak apa-apa yang penting bisa ngirit dan nggak mengorbankan kepentingan rakyat banyak. Secara uang di dompet sudah mulai menipis.
Disini gue beranikan diri untuk berenang. Pake pelampung pastinya. Nggak pake gas elpiji 3 kg. Asyik berenang dan nggak ada foto yang bisa kami abadikan disini. Sayang sekali padahal pemandangannya sangat indah menurut gue. Ahh sayang banget pokoknya. Dan gue berjanji kepada Ibu Pertiwi seandainya gue diizinkan lagi untuk menginjakkan kaki di Citumang gue bakal ngambil foto sebanyak-banyaknya.
Hari pun mulai sore, matahari sudah mulai tenggelam dan kami bergegas meninggalkan Citumang untuk pulang ke rumah. Tapi kami sempatkan lagi ke pantai untuk foto-foto sebelum kami beristirahat.
Dan beginilah kalau Band Malaysia menemukan laut. Rasanya gatal pengen di foto. Narsis? Memang. Biarkanlah mereka menikmati.
Puas berfoto kami segera pulang karena ombak semakin besar. Gue takut mereka dijemput Nyi Roro Kidul. Bagaimana nanti gue menjelaskan semua kejadian yang menimpa mereka di depan Sidang Paripurna DPR? Gue sama sekali bingung.
Setibanya di rumah kami langsung beristirahat di teras. Oh lelahnya. Qionk dan Seponk memutuskan untuk langsung pulang ke Bandung malam itu juga sementara gue sama Obat akan pulang besoknya karena gue masih penasaran sama rencana awal gue ke Pangandaran. Iya gue pengen ke Green Canyon. Setelah berdiskusi menetukan tujuan perjalanan selanjutnya antara Green Canyon, Madasari atau Nusakambangan. Secara aklamasi destinasi perjalanan selanjutnya diputuskan bahwa kami akan ke Green Canyon. Palu diketok oleh ketua MPR. Tandanya keputusan sudah bulat dan nggak bisa di ganggu gugat lagi. Titik.
Setelah mengumpulkan pasukan sebanyak 4 orang yaitu gue, Obat, Ian dan Ramdan kami langsung berangkat menuju Green Canyon. Dan kembali jalanan yang harus dilalui adalah jalanan berdebu. Ini menyebalkan menurut gue. Tapi itu nggak seberapa dibanding dengan keindahan yang akan gue jumpai disana nanti. Dan tibalah kami di pintu masuk Green Canyon. Disini adu tawar tarif perahu dan berenang berlangsung dengan sengit. Seperti pertandingan El Clasico. Panas dan alot. Dan tetap saja tarif yang harus kami bayar sangat mahal. Kami harus merogoh kocek sebanyak 250.000 untuk sewa perahu dan berenang. Lagi-lagi Yahudi sangat berkuasa. Ah Indonesiaku. Berikan kemerdekaan untuk negeri ini Ya Allah.
Oh Indahnya pemandangan sepanjang sungai yang kami lalui untuk menuju ke mata air, tempat yang nantinya akan kami gunakan untuk <strike>semedi</strike> berenang dan berfoto-foto.Gue rasa negeri ini sungguh masih sangat indah. Betapa beruntungnya gue dilahirkan di negeri ini. Rasa syukur nggak hentinya gue ucapkan dalam hati. Betapa senangnya gue hari itu meskipun dalam hati bergejolak karena uang di dompet hanya cukup untuk perjalanan pulang. Ah sudahlah. Nikmati sajalah. Kapan lagi gue bisa ke Green Canyon?
Kali ini gue juga terpaksa harus berenang untuk menuju ke hulu sungai dimana nantinya disana akan ada pemandangan sungai bawah tanah yang lebih menakjubkan lagi. Iya gue harus berenang lagi. Berenang adalah salah satu pelajaran olahraga yang paling gue benci. Fak! Fak! Tapi gue lakukan semua itu demi menggapai salah satu tempat terindah di muka bumi. Ya gue berhasil meskipun dengan bantuan guide Yahudi tadi. Tapi gue bangga. Pemandangan di bawah tanah benar-benar membuat gue sadar akan keagungan Tuhan. Betapa kecilnya diri ini. Gue malu.
Lelah berenang kami segera kembali ke loket karena perahu telah menunggu. Di loket, kami sempatkan untuk makan dulu sebelum pulang ke rumah. Dan di perjalanan pulang kami mampir ke Bandara Pangandaran tapi kami nggak bisa masuk kesana. Kami langsung pulang karena badan sudah sangat letih. Rasanya tulang-tulang sudah mau lepas dari raga ini saking letihnya. Tibalah di rumah lalu kami meminum air kelapa muda yang langsung kami petik dari langit. Segarnya. Setelah tiduran di halaman rumah, gue sama Obat segera beres-beres karena kami akan langsung pulang ke Garut. Kami tiba di Garut sekitar jam 9 malam. Setelah tiba di rumah gue nggak tau lagi apa yang terjadi. Gue langsung tidur pulas. Nyenyak banget.
Begitulah perjalanan panjang gue mengelilingi Pangandaran. Dan gue belum puas karena semua tempat indahnya belum gue kunjungi. Suatu hari nanti gue bakal melanjutkan misi ini.
Selasa, 23 September 2014
(Masih Mimpi) Mahameru
Mahameru berikan damainya
Di dalam beku arcapada
Mahameru sebuah legenda tercipta
Puncak abadi para dewa...
Lirik lagu Dewa 19 tadi semakin membangkitkan hasrat gue untuk menginjakkan kaki di puncak tertinggi Gunung Semeru. Puncak Mahameru. Sampai detik ini gue masih menyimpan mimpi ini. Gue memang bukan pendaki gunung, naik gunung juga baru sekali seumur hidup. Tapi gue pengen banget jadi pendaki gunung. Gue sangat mengagumi keindahan alam Indonesia. Gunungna, pantainya, hutannya, budayanya dan semuanya. Ya gue cinta Indonesia. Gue sangat cinta alam Indonesia <strike>Tapi tidak dengan sistemnya</strike>. hahaha
Gue pengen ikut berpartisipasi melestarikan keindahan alam Indonesia. Gue nggak mau keindahan alam Indonesia dirusak oleh pihak yang sama sekali nggak bertanggung jawab. Udah cukup gue merasakan udara yang begitu panas menyengat akibat hutan kita yang terus menerus digunduli. Banjir akibat sungai yang udah jadi tempat sampah terpanjang dan berbagai problem yang lain akibat kita nggak lagi peduli dengan alam. Kita udah nggak bersahabat lagi dengan alam. Sepertinya alam marah sama kita penduduk bumi yang amat sangat serakah.
Sampai detik ini pula hasrat gue untuk jadi pendaki gunung belum pernah terwujud. Tapi gue yakin gue pasti bisa. Melestarikan alam Indonesia nggak harus jadi pendaki gunung. Gue cuma pengen menikmati indahnya negeri ini. Gue pengen menikmati semua keindahan alam Indonesia. Gue pengen keliling Indonesia. Keliling dunia. Oh indahnya dunia. Maka bersyukurlah atas nikmat hidup yang telah diberikan Allah kepada kita semua.
Gue sering baca tentang kisah perjalanan para pendaki yang pernah mendaki Semeru. Gue juga pernah mendengar cerita dari temen gue yang pernah ke sana. Betapa beruntungnya mereka. Betapa indah kisah mereka. Bisa menikmati fajar di Ranu Kumbolo, menikmati hangatnya mentari pagi menyambut hari sambil menikmati secangkir coklat hangat dan bercengkrama penuh keakraban dengan pendaki lain. Melintasi sabana oro-oro ombo yang luas. Dan menikmati sunrise di puncak tertinggi gunung Semeru. Puncak Mahameru.
Hasrat gue semakin menggebu. Gue semakin cinta alam Indonesia. Gue semakin ingin menjaga alam ini agar anak cucu gue juga bisa menikmatinya nanti.
Jangan biarkan alam marah lagi. Agar kita tetap bisa menikmati keindahannya. Agar kita bisa mengerti makna hidup sebenarnya. Tolong jaga alam ini. Tolong jaga Mahameru. Semoga mimpi gue jadi kenyataan. Amin.
Sabtu, 20 September 2014
Sehari Penuh ke Ciwidey
Hari itu tepat hari Jum'at 2 Mei 2014 gue pulang dari Bandung ke Garut. Gue udah merencanakan travelling ke pesisir selatan Garut. Jum'at malam kita mengadakan rapat kabinet guna membahas <strike>siapa Bapak dari anak ayam yang dilahirkan tadi sore</strike> kemana tujuan kita nanti. Mulai dari Pameungpeuk, Cijeruk, Cidaun, Cibalong dan gue lupa lagi yang lainnya. Apa saja isi dari rapat penting ini? Ga ada. Kita cuma ngobrol ngalor ngidul ga penting. Hingga tibalah jam 12 malam dan tidak ada hasil yang kita dapat sampai kita pulang ke rumah.
Sabtu 3 Mei 2014 tidak ada tanda-tanda acara travelling akan jadi kita laksanakan. Semua sibuk dengan urusan masing-masing hingga tiba sore hari ketika gue bertemu dengan Baron. Lalu tercetus ide untuk pergi ke Ciwidey. Lalu kita kumpulkan personel untuk mengarungi perjalanan panjang ke Ciwidey. Setelah itu terkumpullah 5 orang anggota yang dinyatakan sehat lahir batin dan halal menurut MUI. Siapa saja anggotanya? Gue, Baron, Ade, Obhat, and Jepe.Dan besoknya menyusul Acen, jadi 6 orang sudah fix. Malamnya kita rapat kabinet lagi untuk mensukseskan <strike>Pemilihan Camat California</strike> perjalanan kita besok.
Kalian tau dimana kita rapat? Yang pasti bukan di Istana Negara atau juga di Saritem. Iya, kita rapat di warung Baso di Pasar Simpang, Bayongbong Garut. Coba deh kalian kesini. Basonya enak, bentuknya bulat, makannya pake mangkok dan yang punyanya manusia, sama kayak gue. Asyik kan?
Besok pagi kita langsung berangkat.Kita mengambil rute Kamojang-Majalaya-Banjaran-Soreang-Ciwidey.
Foto saat kita menanti jodoh di Alfamart Paseh. Gue (belakang) featuring Baron.
Setelah tersesat beberapa kali akhirnya kita sampai di Ciwidey disambut dengan udara yang sangat sejuk dan pemandangan luar biasa indah. Indonesia memang masih sangat indah untuk kita cumbui. Terima kasih Ya Allah. Semoga kami bisa menjaga karunia terindahMu.
Tempat pertama yang kita tuju adalah Situ Patenggang. Hari sudah siang tapi udara masih sangat sejuk. Suasana minggu siang di sana sangat ramai. Gue sempatkan dulu Shalat Dzuhur di Mushola parkiran. Setelah itu kita keliling situ.
Setelah satu abad kita keliling situ, dari balik bukit muncullah <strike>bidadari</strike> seorang sopir angkutan rakit. Beliau menawarkan kepada kita untuk menyebrang ke Batu Cinta. Berapa tarif yang beliau minta? 200ribu!! Anjir!! Yahudi! Musnahkan! Setelah sekian lama tawar-menawar dengan sengit, jadilah 100rb pulang-pergi.
Ada apa di Batu Cinta? Katanya kita akan mudah dapat jodoh? Katanya jodoh kita adalah seorang wanita? Ahh...entahlah. Buktinya sampai sekarang gue masih belum ketemu jodoh. Mereka juga.
Apa saja yang kita lakukan disana? Ga ada! Kita cuma foto-foto doang dan berdo'a dalam hati masing-masing semoga harga BBM turun, eh engga deng, semoga kita dimudahkan mendapat jodoh yang terbaik. Amin.
Daaaan inilah yang terjadi selanjutnya pemirsa yang budiman...
Yap, bener! Cinta persegi panjang. Ah kalian pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, jadi gue ngga perlu bahas ya.
Hari semakin sore dan cuaca sudah mulai mendung, tapi ada satu tempat lagi yang wajib kita kunjungi. Kawah Putih.
Sebelum meninggalkan Situ Patenggang kita sempat berfoto dengan turis asal India. Bukan, mereka bukan Shahrukh Khan-Kajol. Gue nggak tau siapa nama mereka. Sumpah! Demi Tuhan.
Setelah perbincangan hebat antara Baron vs Mereka, kita langsung terbang menuju Kawah Putih. Untuk bisa sampai ke Kawah Putih kita nggak boleh bawa motor ke atas. Motor harus disimpan dibawah. Jadi kita harus bayar ongkos naik mobil ke atas plus bayar parkir plus titip helm plus masker yang tarifnya lagi-lagi Yahudi bunting!
Kita langsung meluncur ke atas. Sampai di atas kita disambut dengan hujan yang cukup deras. Kita masih terus melanjutkan perjalanan. Sampai disanapun kita cuma bisa foto-foto sama melihat syuting film India. Lagi-lagi kita cuma bisa menghisap jempol kaki. Sambil mengacungkan jari tengah kaki dalam sepatu yang sudah basah kuyup. Eh gue kan pake sendal. Sorry gue lupa saking emosinya.
Dan setelah cukup puas berfoto-foto kita pulang. Karena kelelahan yang cukup hebat kita mampir dulu ke Pasar Caringin. Disana kita diberi <strike>rumput</strike> tahu sama nasi goreng. Waduh nikmatnya. Terimakasih kepada Oot, Mang Ujang, dan Kasrun yang telah menjamu kita semua. Maaf kita sudah sangat merepotkan kalian. Semoga amal ibadah kalian diterima di sisi Allah SWT. Amin
Sabtu 3 Mei 2014 tidak ada tanda-tanda acara travelling akan jadi kita laksanakan. Semua sibuk dengan urusan masing-masing hingga tiba sore hari ketika gue bertemu dengan Baron. Lalu tercetus ide untuk pergi ke Ciwidey. Lalu kita kumpulkan personel untuk mengarungi perjalanan panjang ke Ciwidey. Setelah itu terkumpullah 5 orang anggota yang dinyatakan sehat lahir batin dan halal menurut MUI. Siapa saja anggotanya? Gue, Baron, Ade, Obhat, and Jepe.Dan besoknya menyusul Acen, jadi 6 orang sudah fix. Malamnya kita rapat kabinet lagi untuk mensukseskan <strike>Pemilihan Camat California</strike> perjalanan kita besok.
Kalian tau dimana kita rapat? Yang pasti bukan di Istana Negara atau juga di Saritem. Iya, kita rapat di warung Baso di Pasar Simpang, Bayongbong Garut. Coba deh kalian kesini. Basonya enak, bentuknya bulat, makannya pake mangkok dan yang punyanya manusia, sama kayak gue. Asyik kan?
Besok pagi kita langsung berangkat.Kita mengambil rute Kamojang-Majalaya-Banjaran-Soreang-Ciwidey.
Foto saat kita menanti jodoh di Alfamart Paseh. Gue (belakang) featuring Baron.
Setelah tersesat beberapa kali akhirnya kita sampai di Ciwidey disambut dengan udara yang sangat sejuk dan pemandangan luar biasa indah. Indonesia memang masih sangat indah untuk kita cumbui. Terima kasih Ya Allah. Semoga kami bisa menjaga karunia terindahMu.
Tempat pertama yang kita tuju adalah Situ Patenggang. Hari sudah siang tapi udara masih sangat sejuk. Suasana minggu siang di sana sangat ramai. Gue sempatkan dulu Shalat Dzuhur di Mushola parkiran. Setelah itu kita keliling situ.
Setelah satu abad kita keliling situ, dari balik bukit muncullah <strike>bidadari</strike> seorang sopir angkutan rakit. Beliau menawarkan kepada kita untuk menyebrang ke Batu Cinta. Berapa tarif yang beliau minta? 200ribu!! Anjir!! Yahudi! Musnahkan! Setelah sekian lama tawar-menawar dengan sengit, jadilah 100rb pulang-pergi.
Ada apa di Batu Cinta? Katanya kita akan mudah dapat jodoh? Katanya jodoh kita adalah seorang wanita? Ahh...entahlah. Buktinya sampai sekarang gue masih belum ketemu jodoh. Mereka juga.
Apa saja yang kita lakukan disana? Ga ada! Kita cuma foto-foto doang dan berdo'a dalam hati masing-masing semoga harga BBM turun, eh engga deng, semoga kita dimudahkan mendapat jodoh yang terbaik. Amin.
Daaaan inilah yang terjadi selanjutnya pemirsa yang budiman...
Yap, bener! Cinta persegi panjang. Ah kalian pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, jadi gue ngga perlu bahas ya.
Hari semakin sore dan cuaca sudah mulai mendung, tapi ada satu tempat lagi yang wajib kita kunjungi. Kawah Putih.
Sebelum meninggalkan Situ Patenggang kita sempat berfoto dengan turis asal India. Bukan, mereka bukan Shahrukh Khan-Kajol. Gue nggak tau siapa nama mereka. Sumpah! Demi Tuhan.
Setelah perbincangan hebat antara Baron vs Mereka, kita langsung terbang menuju Kawah Putih. Untuk bisa sampai ke Kawah Putih kita nggak boleh bawa motor ke atas. Motor harus disimpan dibawah. Jadi kita harus bayar ongkos naik mobil ke atas plus bayar parkir plus titip helm plus masker yang tarifnya lagi-lagi Yahudi bunting!
Kita langsung meluncur ke atas. Sampai di atas kita disambut dengan hujan yang cukup deras. Kita masih terus melanjutkan perjalanan. Sampai disanapun kita cuma bisa foto-foto sama melihat syuting film India. Lagi-lagi kita cuma bisa menghisap jempol kaki. Sambil mengacungkan jari tengah kaki dalam sepatu yang sudah basah kuyup. Eh gue kan pake sendal. Sorry gue lupa saking emosinya.
Dan setelah cukup puas berfoto-foto kita pulang. Karena kelelahan yang cukup hebat kita mampir dulu ke Pasar Caringin. Disana kita diberi <strike>rumput</strike> tahu sama nasi goreng. Waduh nikmatnya. Terimakasih kepada Oot, Mang Ujang, dan Kasrun yang telah menjamu kita semua. Maaf kita sudah sangat merepotkan kalian. Semoga amal ibadah kalian diterima di sisi Allah SWT. Amin
Langganan:
Postingan (Atom)











