Gunung Cikuray adalah salah satu gunung tujuan para pendaki di Jawa Barat. Pemandangannya begitu indah dan mempesona. Setidaknya menurut gue. Tapi sayang, sekarang Cikuray udah mulai gundul sampai hampir setengahnya karena pembukaan lahan pertanian oleh penduduk dari planet Merkurius. Disana mereka nggak bisa nanam cabe. Kesian amat mereka. Cikuray juga dikotori oleh sampah yang berserakan dimana-mana termasuk di puncak. Miris banget.
Cikuray tingginya sekitar 2.821 mdpl. Cukup tinggi buat pemula seperti gue.Jalur pendakian yang curam menuju puncak bakal sangat menguras tenaga. Butuh kekuatan fisik dan mental yang mumpuni buat bisa mendaki sampai ke puncak.
Dimulai dari diskusi singkat via Blackberry Messengger gue sama Danny Subagja aka Buta kita mulai merencanakan buat mendaki di hari Sabtu tanggal 11 Oktober 2014. Oke fix hari itu yang kita pilih. Gue nyoba ngehubungi Rino Karno aka Obat via SMS. Dari Obat terkumpullah anggota sebanyak 6 orang. Mereka adalah Jang Iwan aka Basir, Agus, Ayi, Dedi Rustandi (Oot), dan Peppy serta Obat sendiri. Berarti sudah ada 7 orang sama Buta. Gue dari Bandung sama Cecep. Jadi sekarang anggota jadi berjumlah 9 orang. Oiya satu lagi anggota bertambah. Beliau adalah Eep Permana aka Ojo. Maka anggota fix yang terkumpul buat misi <strike>menaklukkan kerajaan Majapahit</strike> mendaki Cikuray berjumlah 10 orang.
Gue berangkat dari Bandung hari Jumat jam 21.30 abis nonton Persib. Iya tadinya gue mau berangkat ke Garut sore hari tapi takut nggak kebagian nonton pertandingan. Kalian tau kan gara-gara gue Persib jadi menang? hahahaha *sok jadi dukun*. Di perjalanan gue sempatkan belanja di Alfamart buat membeli kebutuhan logistik selama pendakian ke puncak. Gue beli 1 botol Aqua 1,5 liter dan beberapa makanan ringan. Abis belanja, gue langsung melanjutkan perjalanan dan tiba di rumah jam 23.15. Gue pun langsung tidur.
Bangun tidur gue langsung mencret karena masuk angin semalam di perjalanan. Jam 7.30 gue ngambil tenda ke rumah teman gue. Eh maksud gue minjem hehehe. Setelah itu gue langsung packing barang-barang. Kemudian kita berkumpul dan menumpang mobil bak sampai Pamalayan. Setelah berdo'a menurut agama dan kepercayaan masing-masing kita langsung mendaki sekitar jam 11 siang.
Kita langsung disambut trek dengan jalanan setapak yang menanjak diantara perkebunan penduduk. Panas terik udara bikin tubuh cepat kelelahan. Jalanan dipenuhi dengan tanah berdebu karena kemarau yang berkepanjangan. Inilah akibat keserakahan manusia yang menggunduli hutan untuk kepentingan mereka sendiri. Cikuray udah nggak asri lagi sekarang. Gue sedih. Tapi gue nggak bisa berbuat apa-apa buat menyelamatkan Cikuray dari ini semua.
Perjalanan melewati debu dengan jalanan menanjak dan udara panas terik. Sesekali kita istirahat buat memulihkan tenaga. Selama perjalanan sebelum memasuki hutan kita nggak bisa menghirup udara segar karena udara dipenuhi debu yang menusuk pernafasan. Melelahkan.
Setelah berjalan sekitar 2 jam, kita tiba di sebuah kolam buatan buat menampung air dari mata air yang bakal digunakan buat nyiram tanaman. Disini gue mulai ngerasain ada yang aneh sama perut gue. Dia kukurubukan alias keroncongan nggak karuan kayak lagi perang Mahabarata terjadi didalam perut gue. Gue pun boker buat meredakan perang yang udah terjadi selama beberapa dasawarsa ini. Creeet... ternyata gue mencret lagi. Ah sial. Gue berharap semoga perut gue bisa ngertiin posisi gue sekarang. Ini di hutan bukan di SPBU. Disini nggak ada WC Umum. Semoga gue selamat sampai tujuan. Amin.
Satu per satu pasukan menceburkan diri ke kolam secara membabi buta seperti kerbau yang kehilangan induknya selama ratusan tahun. Segernya kayak abis minum Frestea yang udah disimpen di kulkas sejak gue masih SD. Ahh ini surga dunia. Bukan Sinar Dunia yah. Itu mah merk buku tulis ketika gue masih suka sekolah dulu hahaha.
Inilah anggota paling subur diantara rombongan kita. Dia adalah Agus. Entah apa yang dia makan hingga hampir nggak berbentuk seperti manusia biasa. Mungkin dia suka makan rumput tetangga yang lebih hijau kali yah? Ahh sudahlah. Setelah puas istirahat dan bermain air di kolam, perjalanan dilanjutkan kembali. Jalanan masih berdebu dan menanjak hingga sampai di puncak bayangan. Kita sampai di puncak bayangan sekitar jam 2 siang. Disini kita istirahat dan makan tulang belulang Dinosaurus. Disini juga kita mengisi persediaan air bersih di mata air yang terletak sekitar 50 meter ke arah kiri dari puncak bayangan.
Setelah perut terisi penuh dan tenaga kembali pulih kita langsung melanjutkan perjalanan. Dan inilah perjuangan sebenarnya buat menaklukkan puncak Cikuray. Mulai dari sini jalurnya sangat terjal. Kita harus melewati akar-akar pepohonan di sepanjang jalur pendakian. Ujian fisik dan mental mulai diuji. Perut gue pun lagi-lagi mengalami suasana yang sangat mencekam. Seperti suasana saat sidang sengketa pilpres kemarin. Tapi ini lebih serius dan mengkhawatirkan. Perut gue dalam bahaya besar. Ini udah harus dikategorikan dalam status darurat militer. Iya keadaan perut gue udah melebihi panasnya perang Vietnam. Bahkan lebih berbahaya dan mematikan. Gue bingung. Sekali lagi gue bingung. Ini ujian maha berat buat gue. Gue harus berusaha tetap kuat. Croott... Gue boker lagi di tengah-tengah perjalanan. Isinya adalah campuran air aki dan pepsi tambah sedikit aspirin. Air semua. Gue mengalami kelelahan hebat akibat hal ini. Badan gue lemes seperti ibu-ibu abis melahirkan bayi paus.
Sekitar 950 meter lagi menuju puncak, rombongan mulai dipecah menjadi 2 rombongan. Gue berada di rombongan paling belakang bersama Obat, Buta, Agus dan Basir. Kenapa gue paling belakang?? Seperti yang udah gue ceritain diawal, iya gue terserang penyakit misterius dari luar angkasa. Penyakit itu gue kasih nama Diare. Dia keren karena hampir saja membuat gue kehilangan harapan buat mencapai puncak. Tapi gue nggak kalah keren karena gue mampu ngelawan dia hampir setengah mati selama perjalanan. Segala cara gue lakuin buat meredakan rasa sakit di perut gue. Mulai dari membaca mantra dari Sun Go Kong, makan jantung Brontosaurus, minum air kencingnya Ayu Tingting dan masih banyak hal ganjil lain yang gue lakuin. Sementara di barisan terdepan ada Peppy, Eep, Oot, Ayi dan Cecep. Mereka tiba lebih dulu di puncak. Sementara gue harus berjibaku dengan sakit perut disertai panas dingin yang makin membuat gue merasa lemah dan berantakan.
Inilah perjalanan berat sesungguhnya buat gue. Perjalanan yang terasa begitu berat dan panjang. Gue harus berjalan merangkak menahan rasa sakit yang menjadi-jadi di perut gue. Perjalanan jadi makin sering terhenti karena kondisi gue yang udah seperti korban banjir lahar dingin merapi. Gue butuh asupan kasih sayang. Batin gue berkecamuk antara terus melanjutkan perjalanan sampai ke puncak malam itu juga atau gue menyerah dan menunda perjalanan sampai besok pagi ketika kondisi gue udah membaik. Tapi berkat dorongan semangat dari teman-teman, gue akhirnya melanjutkan perjalanan meskipun harus terus merangkak sedikit demi sedikit dan memakan waktu berjalan yang teramat panjang.
Selepas maghrib kita baru mencapai titik 700 meter menuju puncak. Di tengah perjalanan gue masih saja sering boker untuk mengeluarkan gas beracun yang bisa memusnahkan seisi dunia. Dunia mainan maksud gue. Baunya bisa mencapai radius 10 km ke segala arah. Dahsyat. Abis gue boker, Obat dan Basir mencoba membuat api dari ranting-ranting kecil untuk sekedar menghangatkan tubuh dan membuat segelas kopi. Kita memasak air menggunakan botol aqua yang dibakar langsung. Ide dahsyat ini patut mendapat apresiasi dan penghargaan dari Menteri Koperasi dan UKM Negara Khayalan.
Di sisa perjalanan kira-kira 400 meter lagi menuju puncak kita bertemu rombongan dari Jakarta yang udah mendirikan satu tenda dan satu tenda lagi sedang dalam proses pendirian. Usut punya usut ternyata mereka sengaja bermalam disana karena ada beberapa anggota wanita yang mengalami kram. Oh andai gue bisa menolong dia pasti gue akan jadi pahlawan. Pahlawan kemaghriban tepatnya. Mereka berencana melanjutkan perjalanan besok pagi sebelum matahari terbit dan sebelum Jokowi dilantik jadi Presiden.
Setelah basa-basi singkat ala bajak laut, gue meminta sedikit teh pahit hangat buat mengobati sakit perut gue. Kali ini perut gue mulai membaik. Terimakasih Bro dari Jakarta, gue nggak akan pernah melupakan kebaikan kalian. Terimakasih banyak juga buat kalian teman-teman gue yang udah mau sabar menemani gue selama perjalanan. Suatu saat gue pasti akan membalas semua kebaikan kalian. Gue jadi terharu. Ini lebih dari sekedar film 5 cm. Ini perjuangan +700 meter hahaha *alayers*.
Perjalanan kembali dilanjutkan dengan kondisi gue yang semakin membaik di perut, tapi nggak dengan kondisi demam gue yang makin menggila. Tubuh gue lemas. Sangat lemas. Panas dingin. Hampir nggak mampu lagi gue berjalan tegak. Kembali gue harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan merangkak sejauh ratusan meter. Tapi mental gue tumbuh seiring dengan berbagai tanda semakin dekatnya gue ke puncak. Dan akhirnya gue sampai di puncak sekitar jam 9 malam.
Gue langsung berbaring di tenda karena udah nggak kuat lagi menahan demam yang merasuki tubuh gue. Tapi gue nggak bisa tidur semalaman. Cecep juga mengalami hal yang sama dengan gue. Bahkan berkali-kali dia memuntahkan jerapah dari mulutnya. Nggak ada yang bisa gue lakuin selama semalaman selain menikmati indahnya panas dingin rasa puncak. Gue tersiksa semalaman. Tapi gue sama sekali nggak menyesal. Dari situasi seperti ini rasa kekeluargaan dan persaudaraan semakin terasa. Klise memang. Tapi gue rasakan sendiri kondisi seperti ini. Sekali lagi gue ucapkan terimakasih buat kalian semua.
Fajar pun tiba dengan begitu mempesona seperti gue hahaha. Indahnya pagi itu. Pagi yang riuh dengan suara para pendaki lain yang asyik bercengkrama dan menikmati matahari terbit. Puncak Cikuray pagi itu begitu penuh sesak oleh para pendaki. Suasananya seperti di pasar. Ramai sekali. Gue pun nggak mendapat spot untuk mengambil gambar matahari terbit. Nggak banyak yang bisa dilakuin pagi itu karena kondisinya terlalu ramai. Kita hanya beraktifitas di sekitar tenda saja.
Selepas maghrib kita baru mencapai titik 700 meter menuju puncak. Di tengah perjalanan gue masih saja sering boker untuk mengeluarkan gas beracun yang bisa memusnahkan seisi dunia. Dunia mainan maksud gue. Baunya bisa mencapai radius 10 km ke segala arah. Dahsyat. Abis gue boker, Obat dan Basir mencoba membuat api dari ranting-ranting kecil untuk sekedar menghangatkan tubuh dan membuat segelas kopi. Kita memasak air menggunakan botol aqua yang dibakar langsung. Ide dahsyat ini patut mendapat apresiasi dan penghargaan dari Menteri Koperasi dan UKM Negara Khayalan.
Di sisa perjalanan kira-kira 400 meter lagi menuju puncak kita bertemu rombongan dari Jakarta yang udah mendirikan satu tenda dan satu tenda lagi sedang dalam proses pendirian. Usut punya usut ternyata mereka sengaja bermalam disana karena ada beberapa anggota wanita yang mengalami kram. Oh andai gue bisa menolong dia pasti gue akan jadi pahlawan. Pahlawan kemaghriban tepatnya. Mereka berencana melanjutkan perjalanan besok pagi sebelum matahari terbit dan sebelum Jokowi dilantik jadi Presiden.
Setelah basa-basi singkat ala bajak laut, gue meminta sedikit teh pahit hangat buat mengobati sakit perut gue. Kali ini perut gue mulai membaik. Terimakasih Bro dari Jakarta, gue nggak akan pernah melupakan kebaikan kalian. Terimakasih banyak juga buat kalian teman-teman gue yang udah mau sabar menemani gue selama perjalanan. Suatu saat gue pasti akan membalas semua kebaikan kalian. Gue jadi terharu. Ini lebih dari sekedar film 5 cm. Ini perjuangan +700 meter hahaha *alayers*.
Perjalanan kembali dilanjutkan dengan kondisi gue yang semakin membaik di perut, tapi nggak dengan kondisi demam gue yang makin menggila. Tubuh gue lemas. Sangat lemas. Panas dingin. Hampir nggak mampu lagi gue berjalan tegak. Kembali gue harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan merangkak sejauh ratusan meter. Tapi mental gue tumbuh seiring dengan berbagai tanda semakin dekatnya gue ke puncak. Dan akhirnya gue sampai di puncak sekitar jam 9 malam.
Gue langsung berbaring di tenda karena udah nggak kuat lagi menahan demam yang merasuki tubuh gue. Tapi gue nggak bisa tidur semalaman. Cecep juga mengalami hal yang sama dengan gue. Bahkan berkali-kali dia memuntahkan jerapah dari mulutnya. Nggak ada yang bisa gue lakuin selama semalaman selain menikmati indahnya panas dingin rasa puncak. Gue tersiksa semalaman. Tapi gue sama sekali nggak menyesal. Dari situasi seperti ini rasa kekeluargaan dan persaudaraan semakin terasa. Klise memang. Tapi gue rasakan sendiri kondisi seperti ini. Sekali lagi gue ucapkan terimakasih buat kalian semua.
Fajar pun tiba dengan begitu mempesona seperti gue hahaha. Indahnya pagi itu. Pagi yang riuh dengan suara para pendaki lain yang asyik bercengkrama dan menikmati matahari terbit. Puncak Cikuray pagi itu begitu penuh sesak oleh para pendaki. Suasananya seperti di pasar. Ramai sekali. Gue pun nggak mendapat spot untuk mengambil gambar matahari terbit. Nggak banyak yang bisa dilakuin pagi itu karena kondisinya terlalu ramai. Kita hanya beraktifitas di sekitar tenda saja.
Sekitar jam 9 pagi kita mulai naik ke atas karena suasana udah mulai sepi. Para pendaki sebagian udah turun sehingga nggak seramai suasana di pagi hari. Apa yang tersisa di atas? Sampah. Sampah yang berserakan dimana-mana. Menyedihkan memang. Puncak Cikuray sekarang jadi tempat sampah raksasa. Andai kondisi gue fit, pengen rasanya gue bawa semua sampah itu turun buat gue buang dibawah. Tapi gue nggak bisa berbuat banyak. Buat jalan turun aja gue harus berjuang melawan rasa letih dan kantuk yang menyerang tubuh gue. Sisa tenaga gue simpan buat perjalanan turun yang juga akan sangat melelahkan. Semoga suatu hari gunung Cikuray bisa terbebas dari sampah. Semoga.
Karena udara di puncak yang makin panas dan persediaan makanan dan minuman mulai menipis, jam 10 pagi kita memutuskan untuk turun dari puncak. Sebelum turun kita berfose-fose cantik buat mengabadikan keindahan puncak Cikuray.
Setelah puas berfose kita langsung turun. Dua jam perjalanan kita baru sampai di puncak bayangan buat istirahat dan mengambil air minum dari mata air di Ekuador. Setelah itu kita langsung melanjutkan perjalanan turun. Perjalanan yang sama melelahkannya kayak perjalanan mendaki kemarin. Gue berada di rombongan terakhir sama Obat dan Buta dan sampai di Pamalayan jam 2 siang. Sementara yang lain udah sampai duluan.
Dengan sisa tenaga kita melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Gue, Obat, Oot dan Ayi menumpang mobil antik tua milik temannya teman gue. Ah indahnya. Siapapun kalian, gue ucapkan terimakasih atas tumpangannya sehingga gue bisa selamat dan sehat wal afiat sampai di rumah. Alhamdulillah. Semoga suatu hari nanti gue bisa mencumbui lagi puncak Cikuray yang udah bersih dari sampah.
Cikuray, momen yang nggak akan pernah gue lupain. Selamanya.
Sayangnya gue gak ikut.padahal kalau gue ikut.di akod tah hiji hiji,nu mopo teh
BalasHapus